KREATIVITAS dapat dipupuk dan dibentuk dalam lingkungan yang mendukung. Apalagi setiap anak dilahirkan dengan bakat kreatif.

Tokoh-tokoh di bidang seni, banyak yang mengakui sebagai orang yang kreatif. Siapa yang tidak kenal lagu-lagu ciptaan Melly Goeslaw yang orisinal atau lukisan karya Basuki Abdullah yang diakui seluruh dunia.

Namun, kreativitas tidak hanya terbatas pada seni. Kreativitas merupakan sikap yang tak hanya melibatkan pola pikir melainkan kemampuan anak menyelesaikan masalah. Tengoklah betapa Thomas Alva Edisson pencipta lampu pijar yang jatuh bangun mempertahankan ide dan kreativitasnya. Sementara orang lain mencemooh betapa konyol hal yang ia kerjakan. Kreatif tak hanya memiliki dan menjalankan ide, juga mampu mencari keunggulan dari kreativitas itu.

Irma Gustiana Andriani MPsi dari LPTUI mengatakan, sikap kreatif bisa muncul karena dua faktor, yaitu secara genetik, ada bakat kreatif atau bisa dirangsang dari lingkungannya. Ciri anak kreatif adalah anak yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar, selalu bertanya dan tidak pernah puas dengan jawaban yang diberikan.

"Selain itu, mereka juga mempunyai minat yang tinggi dalam membaca sehingga pengetahuannya lebih luas, selalu aktif, cenderung percaya diri, dan cepat tanggap merupakan ciri lainnya. Mereka juga mempunyai banyak ide yang terkadang agak aneh," sebut Irma.

Saat ini banyak permainan dan kelompok belajar yang dapat mengasah kreativitas anak. Karena itu, anak diharapkan dapat mengeluarkan seluruh kebiasaannya dan dapat belajar dari lingkungannya. Seperti yang dikatakan seorang pendidik kenamaan dari Inggris, Arthur J Cropley, tak seorang pun yang tidak memiliki kreativitas karena jika demikian sama seperti tidak memiliki kepintaran sama sekali.

"Tidak kreatif berarti anak tidak berpikir dan tidak melakukan apa-apa. Sebab itu, sangat kecil kemungkinannya orangtua tak mampu membentuk kreativitas anak," ujar Cropley.

Di sisi lain, banyak juga anak yang mengalami kesulitan dalam mengembangkan daya kreativitasnya karena tidak adanya media untuk menyalurkannya maupun kurangnya perhatian orangtua.

Pola pengajaran di sekolah juga sebaiknya jangan terlalu menekan atau bahkan membatasi anak dalam mengeksplorasi dirinya sehingga membuat mereka merasa apa yang dikemukakan selalu salah. "Padahal, dengan selalu memberikan kebebasan, daya kreativitas mereka semakin terasah," tegas Irma.

Rangsangan yang bersifat motorik bisa dilakukan agar anak menjadi pribadi yang kreatif dan mampu menangkap segala apa yang dilihat dan dirasakannya. Pada umur 2-3 tahun daya tangkap anak sudah baik. Karena itu, sudah bisa diajarkan permainan-permainan yang lebih kompleks. Sebagai orangtua, menyediakan media sebagai tempat untuk anak bermain dan bereksplorasi untuk menyalurkan kreativitasnya adalah suatu kewajiban.

Hal senada diungkapkan Prof Dr SC Utami Munandar, dalam bukunya, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Pada saat anak berusia 1-4,5 tahun adalah masa puncak kreativitas anak. Pada saat inilah anak mudah menyerap dan mengembangkan hal-hal baru yang ia dapat. Sel-sel otak si kecil yang sedang berkembang pesat sangat membantunya untuk menyerap pengetahuan baru yang ia peroleh.

"Namun, tentu saja tetap dibutuhkan peran lingkungan untuk bisa mengoptimalkannya. Karena itulah stimulasi yang diberikan orangtua sangat diperlukan," ujar Utami.
(sindo//tty)  [okezone]

Artikel yang berhubungan :



0 komentar:

Post a Comment